MONITORING DAN EVALUASI SEBAGAI UPAYA PEMBINAAN PERPUSTAKAAN SMK MUTU OLEH DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI LAMPUNG
MONITORING DAN EVALUASI SEBAGAI UPAYA PEMBINAAN PERPUSTAKAAN SMK MUTU OLEH DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI LAMPUNG
Ditulis Oleh Tim Jurnalis SMK MUTU
Pada Senin (4/3/2019) Pukul 13.30 WIB
TUMIJAJAR - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung mengadakan monitoring dan evaluasi (monev) sebagai upaya pelaksanaan pembinaan perpustakaan di tingkat SMA/SMK/MA di Provinsi Lampung. Salah satu sekolah yang mendapatkan sasaran monev perpustakaan adalah SMK Muhammadiyah Tumijajar.
Monev dilaksanakan pada Senin (4/3/2019) di perpustakaan SMK MUTU. Tim monitoring dan evaluasi bertemu dengan Bapak Subardiyono, S.Pd., selaku Kepala Perpustakaan SMK MUTU beserta tim dari pengelola perpustakaan SMK MUTU.
Dalam kegiatab monev ini, tim dari Dinas Pendidikan dan Kebudayan melihat dan berbincang secara langsung dengan pengelola perpustakaan SMK MUTU tentang bagaimana teknis pengelolaan perpustakaan selama ini, pembicaraan seputar kelengkapan sarana prasarana, pemanfaatan perpustakaan dalam kegiatan pembelajaran, minat baca siswa, anggaran, pengolahan danĀ klasifikasi jenis bacaan, serta kendala dan hambatan yang dihadapi dalam mengelola perpustakaan.
Selain berbincang secara langsung, tim monev juga mengumpulkan data melalui kuesioner yang diisi oleh pengelola perpustakaan dalam hal ini dilakukan oleh Ibu Sri Harumi, tim monev juga memberi saran dan masukan, penyuluhan, serta bimbingan berkaitan dengan layanan perpustakaan yang harus ditingkatkan agar minat baca serta pemanfaatan perpustakaan sebagai penunjang dalam pembelajaran menjadi lebih baik lagi.
Bapak Subardiyono, S.Pd., mengatakan bahwa pesan dari monev ini ditekankan kepada pengembangan jumlah buku dan bahan penunjang belajar lain seperti video pembelajaran, ensiklopedi, kamus dan lain-lain. Buku yang ada juga harus ditingkatkan lagi ragam jenisnya, seperti penambahan pada buku-buku fiksi dan non-fiksi sehingga buku tidak homogen pada buku-buku paket saja.
"Kami mendapat masukan agar ketika siswa lulus dan hendak mengambil ijazah, harus menyumbangkan minimal satu buku baik fiksi maupun non-fiksi, dengan begitu dapat meningkatkan jumlah buku di perpustakaan kita", ujar Bapak Subardiyono kepada tim jurnalis.
Untuk menggiatkan budaya literasi sekolah dapat dimulai dengan meningkatkan minat baca di kalangan peserta didik. Perlu upaya dari seluruh pihak untuk memberdayakan perpustakaan sekolah sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa dalam memenuhi kebutuhan literasinya. (red: TM/AT)